Capek atau Burnout

Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah menjalani hari yang sibuk. Burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat stres yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas, hubungan sosial, hingga kualitas hidup seseorang.

Penelitian yang diterbitkan dalam *Health Science Journal of Indonesia* menemukan bahwa pekerja dewasa muda yang sedang berada pada fase *quarter life crisis* cenderung mengalami tingkat stres yang cukup tinggi. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa individu dengan resiliensi dan kecerdasan emosional yang baik memiliki tingkat stres yang lebih rendah dibandingkan mereka yang kesulitan mengelola tekanan.

Artinya, bukan hanya banyaknya pekerjaan yang membuat seseorang rentan mengalami burnout, tetapi juga bagaimana ia menghadapi tekanan yang muncul setiap hari.

Lalu, apa bedanya burnout dengan rasa lelah biasa?

Lelah biasa umumnya akan membaik setelah tubuh mendapatkan istirahat yang cukup. Sebaliknya, burnout sering kali tetap dirasakan meski seseorang sudah beristirahat. Bahkan, tidak sedikit orang yang mulai kehilangan motivasi, merasa sinis terhadap pekerjaan, hingga mempertanyakan tujuan yang sedang dijalani.

Temuan tersebut sejalan dengan tinjauan literatur yang dipublikasikan dalam *Jurnal Keperawatan Jiwa*. Penelitian itu menjelaskan bahwa stres pada remaja dan dewasa muda dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tekanan akademik atau pekerjaan, kemampuan mengelola emosi (*coping*), serta dukungan sosial dari lingkungan sekitar. Strategi coping yang baik dan adanya support system dapat membantu seseorang menghadapi tekanan dengan lebih sehat.

Jika kamu mulai merasa mudah lelah, sulit fokus, kehilangan motivasi, mudah marah, atau pekerjaan terasa semakin berat setiap hari, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Bisa jadi tubuh dan pikiranmu sedang memberikan sinyal bahwa sudah waktunya beristirahat, mengatur ulang prioritas, atau ke tenaga profesional.

Menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari tantangan, melainkan mengenali batas kemampuan diri dan berani mengambil langkah untuk merawat diri. Karena produktivitas yang baik tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras kita bekerja, tetapi juga seberapa baik kita menjaga keseimbangan antara pekerjaan, istirahat, dan kesehatan mental.

Penulis Novitasari Andi

Referensi :

Wardani, I. Y., Oktaviana, D. A., & Nasution, R. A. (2022). *Resilience and Emotional Intelligence Related to Workers' Stress Level in the Quarter Life Crisis*. *Health Science Journal of Indonesia, 13*(2), 49–56. [https://doi.org/10.22435/hsji.v13i2.6473]()

Sri Nurwela, T., & Israfil. (2022). *Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stres pada Remaja: Literatur Review*. *Jurnal Keperawatan Jiwa, 10*(4), 697–704. [https://doi.org/10.26714/jkj.10.4.2022.697-704]()