Kenapa Overthinking Nggak Kunjung Hilang? Mungkin Ini Alasannya
Pernah merasa pikiran terus berputar meskipun masalahnya sudah selesai? atau justru memikirkan sesuatu yang bahkan belum terjadi? ini sering disebut overthinking, yaitu kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan hingga membuat diri sendiri merasa cemas, lelah, dan sulit menikmati momen.
Banyak orang mengira cara mengatasinya adalah dengan terus menyibukkan diri agar tidak sempat berpikir ke arah yang di maksud. Padahal, memaksa diri untuk selalu produktif belum tentu menjadi solusi. Dalam beberapa kondisi, otak justru sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Kenapa Overthinking Sulit Berhenti?
Overthinking biasanya muncul ketika seseorang merasa khawatir terhadap masa depan, menyesali kejadian masa lalu, atau memiliki tekanan dari lingkungan sekitar. Pikiran yang terus berulang dapat membuat seseorang sulit berkonsentrasi, mudah merasa lelah, bahkan mengalami gangguan tidur.
Beberapa penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa overthinking memiliki hubungan dengan meningkatnya kecemasan dan kesehatan mental, terutama pada remaja serta dewasa muda. Faktor seperti tekanan akademik, pekerjaan, hingga penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menjadi pemicunya. Selain itu, kualitas tidur yang kurang baik juga dapat memperburuk kondisi psikologis seseorang sehingga pikiran terasa semakin sulit dikendalikan.
Produktif Itu Baik, Tapi Istirahat Juga Harus
Menjadi produktif tentunya hal yang positif. Namun, jika dilakukan hanya untuk menghindari pikiran yang sedang tidak baik-baik saja, rasa lelah bisa semakin menumpuk.
Tidak ada salahnya mengambil jeda sejenak. Hal sederhana melakukan hobi dan membatasi waktu ber sosial media, atau berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu pikiran menjadi lebih tenang.
Jika overthinking sudah berlangsung dalam waktu yang lama hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Berkonsultasi dengan psikolog bukan berarti seseorang lemah, tetapi merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri.
Tentunya, kita tidak harus selalu kuat setiap saat. Ada kalanya tubuh dan pikiran sama-sama membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak. Produktif memang penting, tapi menjaga kesehatan mental juga tidak kalah penting. Karena kadang, yang benar-benar dibutuhkan bukan bekerja lebih keras, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas, beristirahat, dan memulai kembali dengan pikiran yang lebih damai.
Penulis
Novitasari Andi
Referensi :
Antika, S., dkk. (2025). *Dampak Kesehatan Mental Akibat Overthinking dan Media Sosial pada Mahasiswa*. MEDIKA: Jurnal Kasus dan Penelitian Kesehatan, 3(2), 100–108.
Nadira, N., dkk. (2025). *Perbandingan Efektivitas Art Therapy dan Cognitive Defusion untuk Menurunkan Tingkat Overthinking pada Dewasa Muda*. PAEDAGOGY: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi, 5(2), 363–374.
Razali, R. A. N., Suparto, S., & Perangin-Angin, C. R. (2021). *Hubungan Antara Kualitas Tidur dengan Kesehatan Mental pada Mahasiswa Kedokteran: Tinjauan Umum*. Jurnal Kedokteran Meditek, 27(2), 131–140.

